Blog

Ilustrasi Keluarga Qurani

Catatan Tentang Bagaimana Membangun Keluarga Generasi Qurani

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

 

Al Quran sebagai kitab suci dan harta paling berharga bagi umat Islam, tentunya difahami diketahui oleh setiap muslim. Tetapi ketika berbicara menjadikan Al Quran sebagai fondasi dalam membangun keluarga, pada kenyataannya tidak semua muslim yang faham cara melakukannya. Lantas, bagaimanakah cara membangun keluarga generasi Qurani? Berikut penjelasan singkatnya yang diambil dari catatan seminar Al Quran di Universitas Indonesia, pada 11 Agustus 2012:

 

Bila kita bicara tentang membangun generasi, maka harusnya kita mengambil contoh dari generasi terbaik yang pernah ada: generasi sahabat Rasulullah saw. Generasi sahabat itu seperti bintang-bintang yang terang, dan tidak saling meredupkan satu sama lain. Umar bin Khattab itu bersinar sangat terang, tapi terangnya tidak meredupkan sinarnya Abu Bakar. Begitu pun sahabat yang lainnya. Maka merekalah generasi terbaik, dan panutan terbaik membina generasi.

Untuk membentuk generasi Qurani, tidak dimulai dari mencari seorang istri atau suami, tapi mencari ibu atau ayah. Bedanya mungkin tipis, tapi sangat berpengaruh. Kalau mencari istri/suami, yang dikedepankan adalah idealita pribadi (apa yang disukai oleh dirinya). Tapai kalau mencari ayah/ibu, yang dikedepankan adalah idealita generasi; Anak-anak seperti apa yang ingin dibentuk, maka carilah ibu atau ayahnya yang bisa menyiapkan anak-anak seperti ini.

 

Baca: Miliki Hunian Di Puncak Bogor Bernuansa Islami Bagi Generasi Qurani. Cek Infonya Disini.

 

Beberapa Komentar Dari Para Hafizh Dan Keluarga

 

Ustadzah Dra. Aan Rohanah, Lc, M.Ag

Motivasi menjadikan anak-anak hafal Quran sebenarnya sangat banyak. Salah satunya adalah sebuah hadits “Yang terbaik di antaramu adalah yang mengajarkan Quran dan mempelajarinya”. Untuk membina generasi Qurani, harus bisa mengkondisikan lingkungan. Kalau orang tua sibuk, mungkin tidak bisa mengkondisikan anak untuk tahfizh di rumah, jadi bisa dimasukkan ke pesantren tahfizh. Tapi orang tua harus tetap momotivasi. Kalau anak tidak betah di pesantren, kalau orang tua visinya beda, mungkin akan dibiarkan saja anak itu keluar dari pesantrennya. Tapi kalau visi membangun generasi Qurani-nya sudah sama, maka anak itu akan dipertahankan, akan dimotivasi terus. Jangan lupa berdoa, kalau perlu shalat hajat untuk mendoakan anak yang susah menghafal Quran.

Faris Jihady (hafizh, putra Ust. Mutamimul Ula dan Ustadzah Wirianingsih)

Sebenarnya dulu menghafal Quran sejak kecil, karena disuruh orang tua. Ada perbedaan kalau kita menghafal sejak kecil dan setelah baligh. Kalau menghafal setelah baligh, keuntungannya itu punya motivasi sendiri, menghafal karena kemauan dan kesadaran sendiri, jadi bisa mengarahkan diri sendiri. Kalau sejak kecil, sangat tergantung arahan orang tua. Untuk membangun keluarga Qurani, yang harus dibangun di rumah adalah kebiasaan untuk mencintai Al-Quran. Selain itu, perlu memotivasi anak untuk menghafal, dengan memberikan contoh-contoh orang sukses yang hafal Quran. Hal ini agar dapat menunjukkan keuntungan hafal Quran yang lebih masuk ke logika anak, dibandingkan menunjukkan keuntungan yang abstrak seperti pahala.

Wirda Salamah Ulya (hafizhoh, putri Ust. Yusuf Mansur)

Wirda sekarang berusia 11 tahun dan sudah hafal Quran. Dulu, Wirda berpikir hanya mau menghafal 15 juz saja karena susah menghafal. Tapi pada usia 8 tahun Wirda bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw. Intinya, di akhir mimpinya Wirda, Rasulullah saw. bilang, kalau kamu sungguh-sungguh menghafal Quran maka akan Allah mudahkan.

Umar Al Faruq (hafizh, putera Ust. Budi Dharmawan dan Ustadzah Yoyoh Yusroh)

Semangat Quran dibawa ke Indonesia oleh ibunya Umar setelah berkunjung ke Gaza, Palestina. Di Gaza, saat perkenalan dengan ummahat di sana, semuanya menyebutkan nama, jumlah anak, dan pernyataan “saya hafizh Quran” atau “saya hafal Quran 30 juz”. Perdana menteri Palestina, Ismail Haniya pun hafal Quran 30 juz. Tentara Izzudin Al Qossam, setiap hari saat berjaga di perbatasan tidak pernah lepas dari Quran. Setiap regu berjaga terdiri dari 10 orang, dan masing-masing membaca 3 juz per hari. Jadi setiap hari 30 juz Al-Quran dibacakan. Nggak ketinggalan anak-anak, setiap tahunnya ribuan anak-anak diwisuda hafal Quran.

Nugraha (hafizh, alumni Fakultas Ekomomi UI tahun 2006)

Waktu kecil, ia dipaksa masuk pesantren oleh orang tuanya. Karena memang ada kewajiban menghafal Quran di pesantren, jadi saat akan lulus SMP ia sudah hafal 16 juz. Masuk SMA, waktu kelas 1 ia sengaja ngebut menghafal Qurannya karena kelas 2 dan 3 ingin fokus persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Perlu diketahui, waktu SMA itu dia masih di pesantren yang jumlah mata pelajarannya itu ada 25. Waktu untuk menghafal hanya ba’da maghrib sampai Isya. Karena dirasa nggak cukup, akhirnya Nugraha merelakan waktu mainnya dari ba’da Ashar sampai jam setengah lima untuk menghafal. Setiap ba’da Shubuh setor hafalan ke gurunya. Akhirnya, dia bisa menyelesaikan hafalan Qurannya dalam waktu 4 tahun (3 tahun SMP dan 1 tahun SMA).

Menurut Nugraha, hafal Quran sangat menguntungkan. Saat kuliah, menghafal pelajaran jadi lebih mudah karena terbiasa menghafal. Dan hafal Quran juga menjaga diri dari melakukan tindakan buruk. Masa hafal Quran, tapi kelakuannya buruk. Jadi, hafal Quran jadi benteng juga. Untuk menghafal, sediakan waktu khusus, yang waktunya untuk tiap orang bisa beda-beda.

 

Baca: Miliki Hunian Di Puncak Bogor Bernuansa Islami Bagi Generasi Qurani. Cek Infonya Disini.

 

Sesi tanya jawab

1. Apa yang harus dilakukan orang tua saat membesarkan anak usia 0-5th?

5 tahun pertama adalah golden age. 50% dari diri kita sekarang, dibentuk di 5 tahun pertama itu. Anak pada masa itu punya ingatan sangat kuat dan detail, dan seperti mesin fotokopi (mudah menirukan apa yang dilihat).

Usia 0-5 tahun adalah masa optimalisasi panca indera. Misalnya, kalau anak nunjuk karpet terus nanya ini warnanya apa? Jangan cuma dijawab “hijau”, tapi tambahkan “hijau muda”, atau “hijau toska”, dsb. Kalau anak nunjuk kertas terus nanya, ini apa? Jangan hanya jawab “kertas” tapi jawab lebih detail seperti “kertas folio”, “kertas hvs”, dsb. Jadi pengetahuannya luas.

Anak sangat penasaran dan otaknya sangat siap menerima banyak informasi. Tapi terkadang orang tuanya saja yang tidak siap dan tidak punya kapasitas untuk memformat otak anak. Jadi, bukan salah anak, tapi salah orangtua yang (misalnya) tidak sabar menjawab pertanyaan, tidak ngasih informasi lengkap, dll.

Nah, kalau tadi contoh indera penglihatan, indera lainnya pun harus dilatih. Misalnya indera perasa, gapapa lah anak ngerasain sambel sedikit tapi abis itu dia tau rasanya pedas. Kemudian contoh lain untuk melatih indera peraba itu ada metode yang dikembangkan oleh Montessori. Jadi ada beberapa bahan dengan tekstur yang beda, misal amplas, terpal, jins, sutera, linen, dll. Potongan kain ini dipasang di sebuah papan peraga. Mata anak ditutup kemudian tangannya diarahkan untuk meraba 1 tekstur. Kemudian disuruh mengambil pola yang serupa dari sebuah kotak. Jadi indera perabanya kuat. Nanti kalau sudah besar, ditutup matanya juga bisa bedain uang 50 ribu dan 100 ribu. Tapi bagaimana pun usia 0-5 tahun juga usia bermain. Kalau anak gembira, ia akan menikmati waktu belajar. Jangan ngasih dia pelajaran di saat hatinya tidak gembira.

2. Tips menghafal Quran ?

Tips menghafal dari Bu Aan:

  1. Cari waktu paling efektif untuk menghafal (misalnya:setelah shalat tahajud atau sebelum tidur)
  2. Setiap ayat yang mau dihafal harus dipahami isinya (baca arti atau tafsirnya dulu)
  3. Diulang berkali-kali, sebelum hafal jangan pindah ke ayat lain
  4. Tulis di buku kecil awal-awal ayat untuk membantu (FYI sekarang sudah ada Quran hafalan yang di pinggir tiap halaman ditulis awal ayatnya)
  5. Rajin muroja'ah (mengulang hafalan)
  6. Berdoa

Tips untuk mendidik anak dengan Al Quran:

  1. Dari hamil ibunya rajin menghafal Quran
  2. Rajin diperdengarkan Al Quran (misal saat menyusui)
  3. Sering memperdengarkan nama Allah pada anak

 

Demikianlah Catatan Ringan Tentang Bagaimana Membangun Keluarga Generasi Qurani. Semoga artikel ini bermanfaat dan menginspirasi kita untuk mewujudkannya.

Diedit dari tulisan, "Membangun Keluarga Generasi Qur'ani", oleh Ustadz Budi Dharmawan, S.Psi,